Rabu, 30 Oktober 2013

Persilangan


LAPORAN BIOLOGI
PERSILANGAN
DISUSUN OLEH :
NAMA KELOMPOK :
1.     NURSANI
2.    ENRICO PARSIN
3.   IRMAWATI SYAM
4.   AWALUDDIN

SMA NEGERI 1 BONTOMARANNU










KATA PENGANTAR
            Syukur kami penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME , karena berkat rahmat dan hidayahnyalah  penulis dapat menyelesaikan laporan biologi ini.
             Laporan ini kami buat untuk memenuhi syarat dalam melaksanakan praktek biologi dan menjadi pembelajaran bagi kita agar kita dapat mengetahui tentang persilangan hukum mendel II.
Penulis merasa bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan.Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca agar dapat diperbaiki.
Harapan penulis makalah ini berguna dalam upaya menambah wawasan kita terhadap adanya persilangan pada manusia.


  Bontomarannu, 28 Oktober 2013



                                                                                                                            Penulis







BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG


Mendel diakui sebagai Bapak Genetika karena dianggap sebagai penemu prinsip dasar penurunan sifat (hereditas) yang sering dikenal dengan hukum mendel. Dalam percobaannya, mendel menanam tanaman kacang ercis dan memeriksa keturunan-keturunannya.

Pada  keturunan pertama tidak muncul ercis keriput, sedangkan pada keturunan kedua ercis keriput muncul,jadi dalam mengetahui sifat pewarisanharus mengetahui bagaimana gambaran dari pewarisan sifat yang dilakaukan oleh Mendel. Oleh karena itu pada praktikum kali ini ialah tentang imitasi perbandingan genetik percobaan mendel dengan tujuan praktikum ialah mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen yang dibawa oleh gamet akan bertemu secara accak serta melakukan pengujian lewat tes.

Hukum Mendel I atau yang disebut dengan hukum segresi. Hukum ini berbunyi, “Pada pembentukan gamet untuk gen yang merupakan pasangan akan disegresikan kedalam dua anakan.”Mendel pertama kali mengetahui sifat monohybrid pada saat melakukan percobaan penyilangan pada kacang ercis. Sehingga sampai saat ini di dalam persilangan monohibrid selalu berlaku hukum Mendel I.

Hukum Mendel II ini dapat dijelaskan melalui persilangan dihibrida, yaitu persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda. Misalnya, bentuk biji (bulat+keriput) dan warna biji (kuning+hijau). Hukum Mendel II ini hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan. Jika kedua gen itu letaknya berdekatan hukum ini tidak berlaku. Hukum Mendel II ini juga tidak berlaku untuk persilangan monohibrid.






B.     TUJUAN
 Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk menentukan genotip dan fenotip melalui suatu persilangan dihibrid dan menguji hukum mendel II serta Dalam eksperimen ini diumpamakan terjadi persilangan antara 2 tanaman yang bersifat dihibrit dan heterozigot (Bb,Kk, x Bb,Kk)



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mendel tidak hanya berhenti melakukan suatu percobaan, tetapi selalu mengadakan percobaan-percobaan. Ketika mencoba menyilangkan bunga pukul empat (Mirabilis Jalapa) merah dan putih menghasilkan keturunan F1 merah muda. Setelah dilakukan persilangan sesame F1 ternyata menghasilkan keturunan F2 yaitu merah, merah muda, dan putih dengan perbandingan 1 : 2 :1

Teori pertama tentang sistem pewarisan yang dapat diterima kebenarannya dikemukakan oleh Gregor Mendelpada tahun 1865.Teori ini diajukan berdasarkan penelitian persilangan berbagai varietas kacang kapri (Pisum sativum).Dalam percobaannya Mendel memilih tanaman yang memiliki sifat biologi yang mudah diamati. Berbagai alasan dan keuntungan menggunakan tanaman kapri yaitu, (a) Tanaman kapri tidak hanya memiliki bunga yang menarik, tetapi juga memiliki mahkota yang tersusun sehingga melindungi bunga kapri terhadap fertilisasi oleh serbuk sari dari bunga yang lain. Hasilnya, tiap bunga menyerbuk sendiri secara alami; (b) Penyerbukan silang dapat dilakukan secara akurat dan bebas, dapat dipilih mana tetua jantan dan betina yang diinginkan; (c) Mendel dapat mengumpulkan benih dari tanaman yang disilangkan, kemudian menumbuhkannya dan mengamati karakteristik (sifat) keturunannya.













BAB III
METODE PENELITIAN

A.       WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Tanggal : 23 Oktober 2010
Waktu : Pukul 13.00-selesai
Tempat: Labolatorium SMAN 1 Bontomarannu  

B.  ALAT DAN BAHAN
1.  kertas warna sebanyak 4  (merah, putih, kuning, dan hijau)
 2.  2 buah kotak
 3.  Guting
 4. Lem

B.      Cara Kerja :
1.      Gunting semua kertas berwarna sebesar 2x1 cm
2.      Buatlah rangkaian sesuai dengan gamet yang telah ditentukan
3.      Sediakan 2 kotak dan masukkan masing-masing 60 gamet

4.       Tempelkan kertas warna hijau dengan warna putih, warna putih dengan warna kuning, warna merah dengan hijau, dan warna merah dengan warna kuning.

5.      Masukkan kertas kertas secara acak kedalam 2 kotak tersebut dianalogikan sebagai gamet jantan dan gamet betina

6.      Ambil satu kertas dari tiap kotak dengan mata tertutup dengan peluang sebanyak 20 dan tentukan fenotip dan genotipnya
Keterangan :
     B : gen untuk biji bulat disimbol dengan kertas merah
      B : gen untuk biji keriput disimbol dengan kertas putih
      K : gen untuk biji kuning yang disimbol dengan kertas hijau
      K : gen untuk biji  yang disimbol kertas hijau




BAB IV
                                                   HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    HASIL
Gemet yang terbentuk
BK= bulat- kuning => kertas merah dan kuning
Bk= bulat- hijau => kertas merah dan hijau
bK= keriput- kuning => kertas putih dan kuning
bk= keriput- hijau => kertas putih dan hijau


B.     PEMBAHASAN
NO
GENOTIP
IJIRAN
FENOTIP
1
Bk bk
IIII
Bulat hijau, keriput hijau
2
Bk bK
III
Bulat hijau, keriput kuning
3
BK bK
II
Bulat kuning, keriput kuning
4
BK bk
I
Bulat kuning, keriput hijau

Genotip : Bk bk :4
                  Bk bK:3
                  BK bK:2
                  BK bk:1
Fenotip : 4 bulat hijau keriput hijau
                  3 bulat hijau keriput kuning
                  2 bulat kuning keriput hijau
                  1 bulat kuning keriput hijau
         Dari percobaan tersebut yang telah dilakukan, ternyata peluang yang dimiliki tiap-tiap  gen itu berbeda.




BAB V
PENUTUP
A.          KESIMPULAN

     Bila individu berbeda satu dengan yang lainnya dalam dua pasang sifat atau lebih, maka akan diturunkan sifat yang sepasang tak tergantung dari pasangan sifat yang lain.








































DAFTAR PUSTAKA

1.         Idun Kistinnah, Endang Sri, dkk  2006, Biologi SMA kelas XII.  Jakarta
2.         Sri iswanti, 2007, biologi SMA kelas XII. Jakarta












Tidak ada komentar:

Posting Komentar